Di balik “kepolosan” al-Durr al-Manthur Karya al-Suyuti (1445-1505)

Ada kesan bahwa kitab-kitab tafsir klasik itu repetitif, tidak analitis dan membosankan. Kesan ini tidak sepenuhnya salah, apalagi jika sebuah kitab tafsir dibaca sekilas dan serampangan. Salah satu kontribusi artikel Burge ini adalah menunjukkan betapa kitab-kitab tafsir itu tidak sesederhana yang dipersepsikan banyak orang. Sebagai Sampel, ia memilih penafsiran al-Suyuti tentang surat al-Falaq dalam al-Durr al-Manthur.

Burge memiliki tujuan lain. ia juga ingin melihat apakah aplikasi penafsiran Suyuti dalam al-Durr al-Manthur sesuai dengan metodologi Tafsir yang ia rumuskan dalam al-Itqan, karena memang al-Suyuti menuliskan terlebih dahulu Lubab al-Nuqul, lalu al-Itqan lalu al-Durr al-Manthur.

Lebih jauh, Burge ingin menunjukkan bahwa cara seorang mufassir berinterkasi dengan teks al-Qur’an tidaklah linear, melainkan bervariasi sesuai dengan bentuk dan konteks ayat yang ditafsirkan.

Sisi lain yang juga disoroti oleh Burge adalah aplikasi radical hermeneutic (merujuk pada metode panafsiran yang sumbernya diklaim dari trilogi Nabi-Sahabat-tabi’in) Suyuti yang mengaburkan pendapat pribadinya. Dengan kata lain, pemikiran al-Suyuti mengenai ayat yang ia tafsirkan seringkali tertutupi oleh hadith (dan hanya hadith) yang ia sertakan dan menjadi tidak jelas jika tidak secara seksama di”preteli”. Dengan kata lain, pembaca karya Suyuti-lah yang justru harus mereka-reka dan mengkonstruksi pemikiran Suyuti.

Dalam Interpretasinya terhadap Surat al-Falaq, menurut studi Burge, Suyuti melakukan paling tidak empat hal. Pertama, Kritik teks al-Qur’an. Lebih tepatnya, Suyuti mendiskusikan mengenai posisi al-Mu’awwidhatayn (surat al-Falaq dan al-Nas), apakah mereka bagian dari al-Qur’an atau bukan. Di dalam al-Durr al-Manthur, empat hadith pertama yang disertakan Suyuti mengafirmasi hal tersebut, sebuah sinyal yang menurut Burge menunjukkan kecenderungan Suyuti untuk menganggap dua surat ini memang bagian dari Qur’an.

Kedua, Asbabun Nuzul. Tiga riwayat disebutkan oleh Suyuti, masing-masing mengenai: (1) sihir yang diarahkan ke Nabi Muhammad, (2) pemakaian al-Mu’awwidhatayn ketika Nabi sakit (untuk pengobatan), dan (3) sikap Nabi terhadap pemakaian Jimat.

Ketiga, Tinjauan Leksikologi. Burge menemukan bahwa dengan riwayat-riwayat hadith yang ia sertakan, Suyuti mampu “membuat” makna. Dalam hal ini, ia berhasil menggiring pembacanya untuk mengartikan al-Naffathat sebagai al-Sahirat.

Keempat, materi-materi Fadha’il (keutmaan membaca surat tertentu). Paling tidak ada tiga hal yang disampaikan Suyuti melalui materi-materi ini: bahwa al-Mu’awwaidhatayn adalah termasuk yang paling disenangi Allah, bahwa karena kemuliannya, keduanya sering dibaca dalam solat dan bahwa keduanya memiliki khasiat magis untuk dijadikan “jamipi-jampi”.

Burge lantas menyoroti sebuah pertanyaan penting tentang apa yang sebenarnya dilakukan Suyuti dalam ketiga bukunya tersebut. Lubab tidak didesain oleh penulisnya sebagai sebuah ensiklopedia, melainkan hanya ringkasan dari apa yang diyakini Suyuti benar saja. Sementara Suyuti ingin agar al-Durr al-Manthur memuat informasi yang lebih komplit dari apa yang ia sajikan dalam Lubab.

Kontribusi artikel ini adalah concernnya dalam menunjukkan bahwa dari cara seorang mufassir memuat atau tidak memuat sebuah riwayat, dan dari riwayat-riwayat yang dipilihnya, pembaca bisa mengetahui kecenderungan mufassir pada argumen tertentu. Lebih jauh lagi, Burge juga menunjukkan hubungan yang kompleks antara satu buku seorang mufassir dengan bukunya yang lain. Dalam kasus Suyuti, hubungannya tidak sesederhana bahwa al-Itqan adalah landasan teoretisnya sementara al-Durr al-Manthur adalah aplikasinya.

How to cite this Article: Muammar Zayn Qadafy, “Di balik ‘kepolosan’ al-Durr al-Manthur Karya al-SUyuti (1445-1505)”, studitafsir.com (blog), November 14, 2020 (+ URL dan tanggal akses)

Detil Artikel yang diringkas: S.R. Burge, “Jalal al-Din al-Suyuti, The Muawwidhatayn and the Modes of Exegesis”, dalam (ed. Karen Bauer), Aims, Methods and Contexts of Qur’anic Exegesis (2nd/8th-9th/15th c), Oxford Uni Press)

Untuk “request” artikel (yang diringkas), sertakan komentar anda beserta alasan “request” di bawah. Sertakan juga email.

Share It :
Default image
Studi Tafsir
Articles: 74

4 Comments

Leave a Reply

العربية AR English EN Bahasa Indonesia ID