Digital Humanities in Tafsir Studies: Ringkasan Presentasi Akif Koc tentang Kajian Sanad di Tafsir Ṭabarī

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy

 

Digital Humanities dalam Studi Islam

Kalau ada satu hal yang paling saya ingat dari presentasi Mehmed Akif Koc dalam “Studium Generale on al-Ṭabarī (d. 310/923), Revisited” pada hari rabu (5 April 2023) adalah pemakaian data-data besar berupa jumlah dan sebaran sanad dalam tafsir Ṭabarī untuk membaca fragmen sejarah tentang bagaimana karya tokoh Persia ini membentuk tradisi tafsir di abad ke-4 H hingga masa-masa setelahnya. Seperti yang diduga, menafsirkan data-data besar adalah hal yang tidak mudah, serta memerlukan kejelian dan keberanian. Sangat bisa dipahami mengapa kemudian Akif Koc mengemas presentasinya dengan judul “on the Subtleties of the Isnāds in Ṭabarī’s Tafsīr” (Tentang hal-hal halus dalam Sanad di tafsir Ṭabarī).

Pemakaian data besar dalam membaca sejarah sudah menjadi satu bidang kegiatan ilmiah yang disebut “digital humanities” (disingkat DH), yang mempertemukan komputasi atau teknologi digital dan disiplin ilmu humaniora. Dengan sifat dasar yang adaptif dengan perkembangan teknologi, DH menjanjikan munculnya cara pandang baru terhadap isu-isu penting dalam kajian humanities, termasuk sejarah. Untuk penjelasan mendalam tentang DH dan penerapannya dalam Studi Islam, lihat di sini.

Di antara riset DH yang dipakai Akif Koc adalah disertasi Heribert Horst (terbit 2012) berjudul Tomography of the Isnāds in al-Ṭabarī’s Tafsīr yang menghasilkan beberapa temuan berikut:

  1. Jumlah riwayat yang ada dalam tafsir Ṭabarī mencapai kurang lebih 38.000 riwayat yang terdiri dari 13.026 bentuk sanad. Dari jumlah tersebut, 11.360 sanad hanya muncul sekali.
  2. Ada 21 sanad yang berulang lebih dari 100 kali, yang jika ditotal secara keseluruhan mencapai 15.700 riwayat.
  3. Dari 21 sanad tersebut, Ibn Abbas menjadi satu-satunya sahabat yang menjadi ujung sanad.
  4. Secara prosentase, 80% dari ribuan sanad tersebut bernilai maqṭūʿ, 16% Mawqūf dan 4% Marfūʿ.
  5. dari ke semua riwayat itu, teridentifikasi kurang lebih 3000 nama orang

Menurut Akif Koc, Gambaran umum sanad dalam tafsir Ṭabarī berkesesuaian dengan sebaran sanad yang direkam dalam Mawsūʿah al-Tafsīr al-Maʾthūr (Dār Ibn Ḥazm: 2017) yang diedit oleh Musāʿid Ṭayyār. Jumlah riwayat tafsir yang ada dalam puluhan korpus yang dihimpun mencapai 64.384, dengan prosentasi sebagai berikut:

  1. Tafsīr al-Tābiʿīn: 47%
  2. Tafsīr Atbāʿ al-Tābiʿīn: 31%
  3. Tafsīr Ibn ʿAbbās: 13,5%
  4. Tafsīr Sahabat selain Ibn ʿAbbās: 4,5%
  5. Tafsir Nabi: 4%

Sedemikian kompleksnya riwayat-riwayat tafsir dalam kitab-kitab tafsir yang terekam dalam tradisi intelektual Islam, membuat Akif Koc tidak tega untuk menafikan peran sentralnya dalam pembentukan tradisi tafsir, khususnya di kalangan Sunni. Saya mendapat kesan bahwa Akif Koc secara halus ingin menggiring audiens untuk mengakui bahwa memang tradisi tafsir Sunni berdiri di atas kemapanan riwayat-riwayat yang otoritatif dari Nabi, sahabat (khususnya Ibn ʿAbbās), tābiʿīn dan atbāʿ al-tābiʿīn, sejak masa awal pembentukannya.

Integrasi Big Data dalam Sejarah tentang Ṭabarī

“Ada tiga hal yang tidak bisa dipercaya: tafsīr, cerita-cerita perang (maghāzī) dan cerita-cerita pujian (malāhim)”. Anekdot terkenal dari Ibn Hanbal ini, menurut Akif Koc, tidak semestinya dikaitkan dengan jeleknya kualitas sanad dalam kitab-kitab tafsir. Alasan utamanya adalah karena Musnad Ibn Ḥanbal sendiri memuat banyak sekali materi tafsir, sehingga tidak mungkin dia akan mempertaruhkan reputasi karyanya yang sudah punya pengaruh besar di masyarakat dengan memunculkan pernyataan yang kontraproduktif. Yang lebih tepat adalah bahwa Ibn Hanbal hanya sedang mendeskripsikan apa yang ia saksikan dan yang ia khawatirkan, bukan apa yang ia telah evaluasi secara kritis.

Lalu, Akif Koc juga mengkritik riset Carra de vaux (w. 1953) yang menyebut tafsir pada awalnya sebagai bagian dari tradisi hadith. Kaca mata ini mungkin menawarkan cara pandang diakronik terhadap materi tafsir sebagai sebuah genre literatur, tetapi dia akan mendegradasi banyak sekali dari materi-materi ini karena status sanad-nya yang kebanyakan maqṭūʿ.

Kajian kuantitas sanad yang disebutkan di awal juga punya implikasi terhadap bagaimana ranking mufassir dipahami dan dipakai dalam analisa-analisa akademik. Akif Koc menyebut ada kesalahan laten di antara para sejarawan tafsir, khususnya para peneliti muda dan mahasiswa, yang membayangkan hirarki materi tafsir itu mengikuti hirarki popularitas tokoh Muslim dalam sejarah Islam, seperti empat khalifah –> ʿAlqamah Ibn Qays (w. 62/682) –> Masrūq Ibn al-Ajdaʿ (w. 63/683) –> Qatādah ibn Diʿāmah (w. 117/ 735). Catat bahwa dalam kitab-kitab tafsir, nama ʿAlqamah dan Masrūq sering disebut sebelum nama Qatādah, bisa jadi karena pertimbangan tahun wafat masing-masing.

Analisa berbasis DH akan menunjukkan pola lain. Keseluruhan materi tafsir (di kitab-kitab yang sudah dianalisa) yang besumber dari otoritas ʿAlqamah berjumlah 29 riwayat, dari Masrūq berjumlah 59 riwayat, dan Qatāda berjumlah 5.726 riwayat.

Hal lain yang tidak kalah menarik dari sebaran sanad dalam tafsir Ṭabarī adalah informasi mengenai perjalanan perburuan sanad yang dilakukan oleh sang mufassir. Ada dua misal yang disebutkan Akif Koc, sebagai berikut:

  1. Bishr b. Muʿādh Yazīd b. Zurayʿ Saʿīd b. Abī ʿArūba Qatāda b. Diʿāma: riwayat ini muncul 3.060 kali dan diulang-ulang dalam tafsir Ṭabarī kecuali di sūrah ke 22-27.
  2. al-Ḥasan b. Yaḥyā ʿAbd al- Razzāq Maʿmar b. Rāshid Qatāda b. Diʿāma: riwayat ini muncul 630 kali, diulang-ulang secara reguler dalam sūrah ke 1-6, sering diulang dalam sūrah 7-26, dan hilang dalam sūrah 27-114.

Akif Koc meyakini pola kemunculan riwayat tertentu dalam sūrah-sūrah tertentu menunjukkan perburuan Ṭabarī atas riwayat tafsir yang sistematis, terjadwal dan tidak asal-asalan. Menurut Akif, penulisan Jāmiʿ al-Bayān dilakukan secara terstruktur, di mana Ṭabarī menyelesaikan tafsir beberapa bagian terlebih dahulu sebelum melanjutkan pada bagian-bagian lain.

Terakhir, analisa DH mengungkap bagaimana pemakaian Isrāʾīiyyāt menjadi hal yang lumrah di tafsir-tafsir generasi awal, termasuk tafsir Ṭabarī. Secara umum, tandas Akif, semakin ke masa kini, trend penggunaan  Isrāʾīiyyāt ini semakin memudar dan bahkan dianggap ilegal. DH dengan demikian membantu para peneliti mengidentifikasi patahan-patahan sejarah saat konsep-konsep tertentu mulai dipakai atau mulai tidak dipakai.

Kesimpulan Akif Koc

Sebelum Studium Generale ini dilakukan, kami sudah mencoba mendudukkan posisi Akif Koc sebagai loyalis Ṭabarī (lihat di sini), sebagai kontra-narasi dari pemahaman baru tentang sang mufassir yang dikembangkan Walid Saleh (lihat di sini). Isu ini disinggung oleh Akif Koc di bagian akhir presentasinya. Dengan yakinnya, kepala Prodi IAT di Ankara University ini menyatakan bahwa klaim Saleh mengenai Ṭabarī yang terlalu ideologis sehingga sangat selektif memilih materi tafsir yang bisa dimasukkan ke kitab tafsir tidak dapat dibenarkan.

Menurut Akif Koc, Ṭabarī serupa potographer yang menangkap semua narasi yang ia bisa temukan. Adapun jika terdapat materi tafsir tertentu yang ada di kitab tafsir lain (di karya Māturidī misalnya) dan tidak dicantumkan oleh Ṭabarī, itu semata-mata karena Ṭabarī tidak ingin memasukkan kontroversi dalam tafsirnya yang akan membuat reputasi karya tersebut menurun. Akif Koc meyakini, tafsir Ṭabarī sudah menjadi karya penting bagi orang-orang di masanya bahkan sebelum sang mufassir meninggal.

Akif Koc berdiri di garda depan untuk menangkal pendapat apapun yang menyebut Ṭabarī sebagai seorang plagiator (lihat ulasannya di sini). Akif Koc menyebut artikelnya yang secara khusus menentang argumen-argumen Walid Saleh mengenai point ini akan terbit di penghujung 2023. Dia berharap artikelnya bisa menjawab tudingan-tudingan miring terhadap siapapun yang meragukan otoritas Jāmiʿ al-Bayān sebagai kitab tafsir ensiklopedis yang obyektif dan memiliki nilai akademik tinggi.

Kuat atau tidak argumen yang akan diusung Koc dalam artikelnya tersebut, kita akan melihatnya nanti. Sambil menunggu, kiranya tepat menyebut bahwa penelusuran sejarah yang dilakukan orang-orang seperti Akif Koc dan Walid Saleh bukanlah perkara kecil dan tidak main-main. Kepastian sejarah adalah sesuatu yang sulit tetapi tidak mustahil dikejar. Sejarah adalah tentang bagaimana  kita membuat peta tentang masa lalu, menggambarkannya dari sebuah point of view, lalu menggunakannya sebagai panduan kita mengarungi masa kini dan masa depan. Sejarah adalah tentang siapa kita dan bagaimana kita menjadi kita, dan yang lebih penting, sejarah hanya akan memberi jawaban bagi mereka yang tahu caranya bertanya“.

How to cite this Article: Muammar Zayn Qadafy, “Digital Humanities in Tafsir Studies: Ringkasan Presentasi Akif Koc tentang Kajian Sanad di Tafsir Ṭabarī”, studitafsir.com (blog), April 6, 2023 (+ URL dan tanggal akses)

Nb: Acara Studium Generale bertemakan “Ṭabarī: Revisited” pada 5 April 2023 di Theatrikal Fakultas Ushuluddin, diadakan berkat kerja sama Program Studi IAT, UIN Sunan kalijaga, Laboratorium Studi Quran Hadith dan Studitafsir.com. File power point Akif Koc bisa didownload di sini dan presentasinya bisa dilihat di sini.

Share It :
Studi Tafsir
Studi Tafsir
Articles: 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *