Peran “Penerbit Buku” Dalam Menentukan Sejarah Intelektual Islam: Review Karya Ahmed El Shamsy

Oleh: Annas Rolli Muchlisin

Jika ditanya tentang tafsir klasik apa yang sangat monumental, banyak dari kita akan menjawab Jami‘ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya al-Thabari (w. 932). Muhammad Husein al-Dzahabi (w. 1977) dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun bahkan menempatkannya di posisi pertama kategori tafsir bi al-ma‘tsur yang paling masyhur. Benarkah tafsir ini seterkenal itu pada beberapa abad lalu? Review terhadap tulisan Saleh yang sudah terbit beberapa waktu lalu, menunjukkan hal lain.

Meneruskan keingintahuan Saleh tentang peran penerbit buku Islam klasik di duni amodern, riset Ahmed El Shamsy (Chicago) menunjukkan bahwa banyak karya sarjana klasik yang pernah termarjinalkan dan bahkan hilang dari sejarah intelektual Islam, baik dalam kurikulum pembelajaran di Madrasah-madrasah maupun dalam kesadaran kolektif umat Muslim sendiri.

El Shamsy menyebut bahwa tafsir al-Thabari tidaklah dikenal sampai tahun 1890an, lalu naskahnya ditemukan dan baru dicetak pada tahun 1903. Hal yang sama juga terjadi pada teks-teks ‘kunci’ Islam klasik lainnya, seperti karya Sibawaih (w. 796), al-‘Asy’ari (w. 936), al-Makki (w. 998), al-Syafi’i (w. 820), dan Ibn Khaldun (w. 1406).

Pada tahun 1902, Muhammad Abduh (w. 1905), sang mujaddid dari negeri Sungai Nil, memberi kesaksian akan terpinggirkannya teks-teks asasi ini. Ia menganalogikan seseorang yang mencari kitab al-Mudawwanah Imam Malik (w. 795), al-Umm Imam Syafi’i (w. 820), atau karya-karya awal mazhab Hanafi (w. 767) bagaikan seseorang yang mencari al-Qur’an di rumah seorang ateis, saking langkanya karya ini saat itu. Kesaksian serupa juga disampaikan oleh Wladimir Ivanow (w. 1970) yang mencari naskah Tahafut al-Falasifah – karya al-Ghazali (w. 1111) yang kini sangat terkenal karena kritiknya terhadap filsafat – ke Bukhara dan bertemu dengan seorang ahli teologi dan filsafat. Malangnya, sang ahli ini ternyata tidak pernah mendengar karya al-Ghazali tersebut.

Pertanyaannya, mengapa karya-karya kunci ini bisa terlupakan? El Shamsy menyebutkan dua alasan, yaitu skolastisisme (scholasticism) dan esoterisme (esoterism) yang menjadi sangat dominan pada era paska-klasik.

Sebelumnya, El Shamsy membagi periode sejarah intelektual Islam menjadi era klasik (classical) dari abad ke-9 sampai ke-15 di mana hidup para tokoh seperti al-Thabari, al-Ghazali, al-Asy’ari, dan para imam mazhab, dan era paska-klasik (post-classical) yang berlangsung dari abad ke-16 hingga ke-19.

Pada era paska-klasik inilah, pembelajaran yang diterapkan tidak lagi menyentuh literatur-literatur klasik yang sangat banyak, tetapi hanya terbatas pada karya-karya yang mengomentari karya klasik, baik dalam bentuk syarah, hasyiyah, taqrir, atau khulashoh. Karya-karya yang lebih tua hanya muncul dalam bentuk kutipan. Akibatnya, ketersediaan teks-teks yang lebih tua ini semakin berkurang. Bahkan seorang ahli hukum mazhab Syafi’i saat itu, lanjut El Shamsy, tidak merasa perlu membaca langsung karya Imam Syafi’i.

Memang tren menulis komentar atas karya terdahulu (syarah, hasyiyah) sudah bermula sejak abad ke-9, tetapi menjadikannya sebagai metode utama dalam pendidikan baru berlangsung sejak era paska-klasik. Hal ini diperparah dengan adanya aturan murid tidak boleh membaca buku secara mandiri dan proses membaca satu buku bersama seorang guru bisa memakan waktu yang sangat lama. Berdasarkan keterangan dari Munir Agha (w. 1948), membaca satu kalimat disertai penjelasan guru saja memakan waktu lima belas hari. Sempitnya horizon literatur yang dikaji dalam kurikulum paska-klasik inilah yang disebut skolastisisme oleh El Shamsy.

Penyebab kedua adalah esoterisme yang mengklaim bahwa kebenaran hakiki hanya dapat diraih melalui pengetahuan intuitif yang dipancarkan langsung oleh Tuhan. Akibatnya, pengetahuan dari buku dipandang palsu dan ‘prestise’ membaca buku menjadi semakin pudar. Hal ini berbeda sekali dengan era klasik, lanjut El Shamsy, di mana para sarjana sangat menjunjung tinggi pembelajaran melalui buku. Cerita al-Jahiz (w. 868) yang meninggal tertimpa buku-bukunya yang jatuh dari rak menegaskan kuatnya kecintaan sarjana klasik terhadap buku.

Ibn ‘Arabi (w. 1240) adalah salah satu tokoh yang dinilai bertanggung jawab atas masuknya esoterisme ini – yang dalam pandangan El Shamsy sudah terpengaruh Neoplatonisme – ke dalam epistemologi Islam. Dalam suratnya kepada Fakhr al-Din al-Razi (w. 1210), penulis tafsir Mafatih al-Ghayb, Ibn ‘Arabi menyebut bahwa pengetahuan seseorang tidak sempurna sampai ilmunya datang langsung dari Tuhan tanpa perantara atau tanpa guru. Sikap ini dikembangkan lebih jauh oleh Abdul Wahab al-Sya’rani (w. 1565) yang mengatakan bahwa ia tidak perlu berkonsultasi kepada buku-buku yang telah ditulis oleh para sarjana karena sudah mendapat pengetahuan langsung dari Tuhan. Dalam iklim seperti ini, yang dianggap sebagai ‘ulama’ bukan lagi mereka yang terpelajar dengan membaca banyak buku seperti era klasik, tetapi mereka yang hanya membaca sejumlah buku yang terbatas diiringi dengan ritual-ritual esoterisme.

Kemunculan kembali karya-karya klasik sejak pergantian era abad ke-20 hingga saat ini tidak terlepas dari gerakan nahdhah (reformisme). El Shamsy menyebut beberapa editor buku klasik yang melalang buana ke berbagai tempat untuk mencari manuskrip-manuskrip kemudian menerbitkannya, seperti Abdul Hamid Nafi (w. antara 1861-1863), Ahmad Taimur (w. 1930), Ahmad al-Husayni (w. 1914), Ahmad Zaki (w. 1934), Tahir al-Jazairi (w. 1920), dan Muhammad Abduh (w. 1905). Menarik dicatat di sini adalah kehadiran Abduh dalam membangkitkan tradisi klasik. Sang modernis yang sering dianggap anti-tradisi ini justru mendirikan Jam‘iyyat Ihya al-Ulum al-‘Arabiyyah yang bertujuan mengedit dan membiayai publikasi karya-karya klasik yang terlupakan.

El Shamsy menyebutkan bahwa para pembangkit karya klasik ini memiliki tujuan yang beragam. Abduh, misalnya, ingin menghadirkan modernitas asli (indigenous modernity) yang murni berasal dari tradisi Islam klasik. Adapula kelompok Salafisme yang juga memanfaatkan industri penerbitan untuk menyebarluaskan pandangannya. Sampai pada tahun 1900an, hampir tidak ada karya Ibn Taimiyyah (w. 1328) yang dicetak dan beredar – ini menunjukkan bahwa Ibn Taimiyyah juga termarjinalkan pada era paska-klasik seperti tokoh-tokoh Muslim klasik lainnya, tetapi setengah abad kemudian, lebih dari 130 karyanya telah diterbitkan di Mesir.

Saat ini, sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi, kita bisa mengakses dan membaca secara langsung karya-karya Muslim klasik, seperti al-Thabari, al-Syafi’i, Malik, al-Ghazali, Ibn Taimiyyah, Ibn Khaldun dan lain-lain, tetapi hingga satu setengah abad yang lalu hal tersebut, dalam bahasa El Shamsy, adalah impossible dream.

How to cite this Blog Article: Annas Rolli Muchlisin, “Peran “Penerbit Buku” Dalam Menentukan Sejarah Intelektual Islam: Review Karya Ahmed El Shamsy”, studitafsir.com (blog), Desember 27, 2020 (+ URL dan tanggal akses)

Buku yang direview: Ahmed el-Shamsy “Rediscovering the Islamic Classics How Editors and Print Culture Transformed An Intellectual Tradition

Share It :
Default image
Studi Tafsir
Articles: 74

Leave a Reply

العربية AR English EN Bahasa Indonesia ID