Apakah al-Tabari (d. 310/ 923) benar-benar Tokoh Penting di masanya?

Pertanyaan tersebut mendorong Walid Saleh untuk lebih dalam mempelajari al-Tabari, tetapi menggunakan teknik yang berbeda dengan yang dipakai kebanyakan sarjana. Alih-alih langsung mengkaji magnum-opus Tabari, Jami’ al-Bayan, Saleh melihat pengaruh Tabari dalam kitab tafsir seorang qadhi dari madhhab Hanafi, Abu Mansur al-Maturidi (d. 333/ 944).

Riset Saleh ini didasari oleh sebuah “kecurigaan” bahwa Tafsir Tabari yang dielu-elukan oleh umat Islam di era modern ini (baik oleh para akdemisi maupun para teologian), jangan-jangan pada masanya tidak seberpengaruh yang diduga.

Dengan kata lain, adalah sebuah kesalahan jika metode tafsir yang ditawarkan Tabari dianggap merepresentasikan mainstream tafsir Sunni, karena Tabari hanya menawarkan satu jenis cara menafsirkan al-Qur’an, di banding dengan ragam cara yang sudah lebih dulu eksis di masanya. Melalui “keresahan akademik” ini, Saleh ingin memotret teori yang lebih besar, yaitu bahwa tafsir yang terlalu mengandalkan Hadith (hadith-oriented Tafsir) pada awalnya bukanlah metode mainstream di kalangan Sunni.

Satu hal lagi yang menurut Saleh, harus diwaspadai ketika membaca Tafsir Tabari: kecenderungan Tabari untuk langsung mengesampingkan (baca: tidak mengutip) pendapat yang tidak sesuai dengan kecenderungan teologisnya. Sehingga memakai Tafsir Tabari untuk membaca sejarah perdebatan panjang dalam penafsiran muslim awal atas al-Qur’an sangat tidak memadai. Tabari, kata Saleh, jauh lebih radikal dan ideologis dari yang sebagian besar kita kira. Tabari bertindak layaknya seorang hakim, bukan penafsir al-Qur’an.

Bagaimana dengan Maturidi?

Posisinya sebagai begawan tafsir di masanya, lebih mentereng dari Tabari. Kitab kedua tokoh yang terbit saat sekarang hampir sama tebalnya. Bedanya, tabari menyertakan semua sanadnya, sementara Maturidi membuang hampir semuanya. Jadi dari segi konten, Tafsir Maturidi jauh lebih kaya dari Tafsir Tabari.

Maturidi juga tidak segan-segan menyertakan pendapat pribadinya bak dalam analisa maupun dalam kesimpulan, tidak seperti Tabari yang pendapat pribadinya tersamarkan oleh materi-materi hadith dan athar yang ia sertakan, seperti yang kita temukan dalam karya al-Suyuti. Lebih-lebih, Maturidi juga tidak merasa canggung untuk menyertakan argumen-argumen yang bersebarangan dengan teologi Ahl al-Sunnah, Mu’tazilah misalnya.

Ini tentu menyisakan sebuah tanda tanya besar, kata Saleh. Mengapa Maturidi di zaman sekarang tidak sepopuler Tabari?. Mungkin manuskripnya entah bagaimana tidak cepat terselamatkan, atau mungkin memang ada gerakan ideologis dan teologis tertentu yang ingin mengaburkan sejarah intelektual Islam?

Di sinilah letak kontribusi utama dari artikel Saleh ini. Ia memantik pertanyaan-pertanyaan kritis seputar apa yang selama ini komunitas Muslim (lagi: baik akademisi maupun orang awwam) yakini sebagai sebuah kebenaran. Artikel ini sekaligus melanjutkan kritik sejarah serupa yang telah diutarakan Saleh dalam tulisannya yang lain.

Tabari adalah ulama besar di masanya. Semua orang tahu. Tapi seberapa besar pengakuan orang terhadap karyanya di periode kemunculannya. belum tentu semua orang tahu.

How to cite this Article: Muammar Zayn Qadafy, “Apakah al-Tabari (d. 310/ 923) benar-benar Tokoh Penting di masanya?”, studitafsir.com (blog), November 20, 2020 (+ URL dan tanggal akses)

Detil Artikel yang diringkas: Walid Saleh, Re-reading al-Tabari Through al-Maturidi: New Light on The Third Century Hijri

Artikel yang diringkas bisa didownload di sini. Silahkan tinggalkan pesan untuk berdiskusi mengenai Studi Tafsir.

 

Share It :
Default image
Studi Tafsir
Articles: 74

Leave a Reply

العربية AR English EN Bahasa Indonesia ID