Review #1

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy

Artikel yang di-review: S.R. Burge, “Jalal al-Din al-Suyuti, The Muawwidhatayn and the Modes of Exegesis”, dalam (ed.) Karen Bauer), Aims, Methods and Contexts of Qur’anic Exegesis (2nd/8th-9th/15th c). 2013.

 

Mereka yang pertama kali menekuni kajian tafsir, akan sangat mudah mendapatkan kesan kalau kitab-kitab tafsir itu repetitif, tidak analitis dan membosankan. Kesan ini tidak sepenuhnya salah, apalagi jika sebuah kitab tafsir dibaca sekilas dan serampangan. Salah satu kontribusi artikel Burge ini, menurut saya, adalah menunjukkan betapa kitab-kitab tafsir itu tidak sesederhana yang dipersepsikan banyak orang. Sebagai Sampel, ia memilih penafsiran al-Suyūṭī tentang surat al-Falaq dalam al-Durr al-Manthūr, sebuah karya tafsir yang oleh Burge disebut radikal secara metodologis, karena sang pengarang tidak membubuhkan komentar apapun atas banyak sekali riwayat yang ia cantumkan di kitab tersebut.

Radical hermeneutic merujuk pada metode panafsiran yang sumbernya diklaim dari trilogi Nabī-Ṣaḥābah-Tābi’ūn. Pemakaian metode ini secara ketat oleh Suyūṭī mengaburkan pendapat pribadinya. Dengan kata lain, pemikiran al-Suyuti mengenai ayat yang ia tafsirkan seringkali tertutupi oleh intisari riwayat yang ia sertakan, seakan-akan Suyūṭī sendiri tidak memiliki pendapat pribadi atas tafsir ayat yang dimaksud. Pembaca karya Suyūṭī-lah yang justru harus menerka posisi sang pengarang, sebuah usaha yang rumit dan memerlukan kejelian maksimal.

Selain mengungkap mekanisme tersembunyi dari al-Durr al-Manthūr yang luput dari pengamatan banyak orang, Burge memiliki tujuan lain, yaitu melihat apakah aplikasi penafsiran Suyūṭī dalam al-Durr al-Manthūr sesuai dengan metodologi Tafsir yang ia rumuskan dalam al-Itqān, karena memang Suyūṭī menuliskan terlebih dahulu Lubāb al-Nuqūl, lalu al-Itqān lalu al-Durr al-Manthūr. Menurut saya, keingin-tahuan Burge ini patut dipertanyakan, karena seharusnya jawabannya sudah jelas, bahwa al-Durr al-Manthūr sama sekali tidak merepresentasikan kompleksitas tafsir yang disiratkan dari al-Itqān. Burge sepertinya melewatkan pernyataan al-Suyūṭī sendiri dalam pembukaan dan penutupan al-Itqān kalau buku ini merupakan pengantar dari kitab tafsir paripurna yang sayangnya tidak pernah sampai kepada kita, meski sebagian kecil darinya (Q. 1 dan Q. 108) sudah selesai ditulis. Kitab yang dimaksud berjudul Majmaʿ al-Baḥrayn wa Maṭlaʿ al-Badrayn. Saya sendiri, bersama Azam Bakhtiar, telah berusaha merekonstruksi tafsir ini dalam sebuah usaha hipotetikal yang sedianya terbit dalam 2 seri artikel. Sampai tulisan ini selesai, bagian pertama telah diterbitkan, sementara bagian kedua sedang dalam proses review dan revisi.

Tapi bisa saja pernyataan yang disampaikan Burge di awal artikelnya merupakan caranya untuk menegaskan urgensi penelitiannya saja, bahwa satu-satunya cara untuk memahami suara utuh seorang penulis, apalagi jika dia seprolifik Suyūṭī, adalah dengan membaca keseluruhan, atau sebagian besar, karyanya secara utuh. Karenanya, di bagian akhir dari artikelnya, Burge menyadari kontinuitas antara al-Durr al-Manthūr dengan Lubāb al-Nuqūl, bukan dengan Itqān. Burge menggaris-bawahi posisi Lubāb yang tidak didesain oleh penulisnya sebagai sebuah ensiklopedia, melainkan hanya ringkasan dari apa yang ia yakini bersumber dari riwayat yang bisa dipercaya. Sementara al-Durr al-Manthūr memuat informasi yang lebih komplit dari apa yang disajikan dalam Lubāb.

Kembali ke artikel klasik Burge, lewat komparasinya atas al-Durr al-Manthūr dan al-Itqān, ia berusaha menunjukkan bahwa cara seorang mufassir berinterkasi dengan teks al-Qur’an tidaklah linear, melainkan bervariasi sesuai dengan bentuk kitab tafsir yang ia produksi. Dengan kata lain, seorang penafsir tidak selalu menerapkan metode, strategi, dan tujuan yang sama dalam setiap karyanya. Pilihan terhadap genre, sasaran pembaca, serta fungsi sebuah karya turut membentuk cara ayat-ayat al-Qur’an diorganisasi dan disajikan.

Dalam Interpretasinya terhadap Surat al-Falaq, menurut studi Burge, Suyūṭī melakukan paling tidak empat hal. PertamaKritik teks al-Qur’an, dengan mendiskusikan mengenai posisi al-Muʿawwidhatayn (surat al-Falaq dan al-Nās), apakah mereka bagian dari al-Qur’an atau bukan. Di dalam al-Durr al-Manthūr, empat riwayat pertama yang disertakan Suyūṭī mengafirmasi kecenderungannya untuk menganggap dua surat ini memang bagian dari Qur’an. Kedua, elaborasi atas Asbāb al-Nuzūl, dengan tiga riwayat disebutkan oleh Suyūṭī, masing-masing mengenai: (1) sihir yang diarahkan ke Nabi Muhammad, (2) pemakaian al-Mu’awwidhatayn ketika Nabi sakit (untuk pengobatan), dan (3) sikap Nabi terhadap pemakaian Jimat.

Ketiga, tinjauan leksikologis, sebagaimana nampak dari cara Suyūṭī menjelaskan istilah al-naffāthāt di ayat ke-4. Suyūṭī menghimpun sejumlah riwayat yang menghubungkan istilah tersebut dengan praktik sihir dan para pelakunya. Dominasi riwayat-riwayat semacam ini membuat pembaca diarahkan untuk memahami al-naffāthāt sebagai al-sāḥirāt (para penyihir perempuan), bukan sekadar perempuan-perempuan yang meniup buhul sebagaimana makna leksikalnya. Keempatmateri-materi Faḍāʾil (keutamaan membaca surat tertentu). Paling tidak ada tiga hal yang disampaikan Suyūṭī melalui materi-materi ini: bahwa al-Muʿawwaidhatayn adalah termasuk yang paling disenangi Allah, bahwa karena kemuliannya, keduanya sering dibaca dalam solat dan bahwa keduanya memiliki khasiat magis untuk dijadikan “jampi-jampi”.

Sampai di sini, contoh-contoh yang diulas Burge, cukup berhasil menunjukkan bagaimana sebuah tafsir berbasis riwayat tetap memiliki dimensi interpretatif. Argumentasi yang ia bangun cukup memperlihatkan bahwa “kepolosan” yang sering dilekatkan pada tafsir bi al-maʾthūr, seakan-akan suara penyalinnya tidak muncul, perlu dipahami secara lebih kritis. Meskipun tidak memberikan komentar langsung, seorang mufassir tetap menjalankan fungsi interpretatif melalui keputusan editorialnya dalam menyeleksi dan mengorganisasi riwayat. Dalam kasus Suyūṭī, Burge menemukan bahwa melalui seleksi dan penyusunan riwayat-riwayat yang disertakannya, sang polymath tidak sekadar mengumpulkan pendapat-pendapat terdahulu, tetapi juga berperan dalam membentuk arah pemaknaan sebuah kata dalam al-Qur’an. Tanpa disadari oleh pembaca, pilihan riwayat yang disajikan Suyūṭī mampu menghasilkan preferensi interpretatif tertentu, meskipun tanpa disebutkan secara eksplisit.

Catatan

Membaca ulang artikel Burge, membuat saya memikirkan beberapa refleksi metodologis tentang siapapun yang mau mulai meneliti Suyūṭī. Salah satunya adalah perlunya kerangka konseptual (framework) yang kokoh dalam membaca relasi antarkarya seorang mufassir, yang kemudian diturunkan menjadi metodologi yang terpadu dan dapat direplikasi (repeatable). Artikel Burge cukup berhasil memainkan perannnya dalam ketersambungan framework dan metode penelitian.

Meskipun diterbitkan pada 2013, artikel Burge tetap layak dibaca ulang dengan perspektif yang lebih segar. Perkembangan studi tentang Suyūṭī selama lebih dari satu dekade terakhir, terutama melalui penerbitan berbagai karyanya dalam edisi taḥqīq, telah memperluas basis data yang tersedia bagi para peneliti. Perkembangan tersebut sekaligus membuka ruang bagi pertanyaan-pertanyaan baru yang belum banyak disentuh oleh Burge. Misalnya berkaitan dengan konstruksi citra diri (self-fashioning) Suyūṭī. Dalam berbagai karya, ia berulang kali menyatakan bahwa kitab yang ditulisnya merupakan karya pertama dalam bidang tertentu atau belum pernah ditandingi oleh penulis sebelumnya. Klaim-klaim semacam ini lazim dipahami sebagai ekspresi kepercayaan diri intelektual, tetapi pada saat yang sama juga dapat dibaca sebagai strategi membangun otoritas keilmuan. Menarik untuk ditelusuri bagaimana gambaran yang dibangun Suyūṭī tentang dirinya sendiri memengaruhi cara ia menyusun karya-karyanya, sekaligus bagaimana para kolega sezaman maupun generasi sesudahnya merespons citra tersebut. Perseteruannya dengan al-Sakhāwī (yang juga telah kami elaborasi panjang lebar dalam artikel pertama dari seri rekonstruksi hipotetikal atas Majmaʿ) hanyalah salah satu contoh yang telah diketahui, sementara kemungkinan adanya pengaruh citra diri al-Suyūṭī terhadap penerimaan, kritik, atau bahkan marginalisasi sebagian karya-karyanya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

How to cite this Article: Muammar Zayn Qadafy, “Di balik ‘kepolosan’ al-Durr al-Manthur Karya al-SUyuti (1445-1505)”, studitafsir.com (blog), November 14, 2020 (+ URL dan tanggal akses)

4 Comments

  1. New Multifunction Waterproof Backpack

    The best ever SUPER Backpack: Drop-proof/Scratch-resistant/USB Charging/Large capacity storage

    50% OFF for the next 24 Hours ONLY + FREE Worldwide Shipping for a LIMITED time

    Buy now: https://thebackpack.co

    Best Wishes,

    Thaddeus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *