Romantisme Akademik Guru-Murid (Nawawi Banten dan Hasan Mustapa Garut)

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy

Bagi “pemula” dalam kajian khazanah intelektual Nusantara seperti saya, artikel Jajang ini membuka mata saya tentang banyak hal. Di luar konten artikel yang akan saya elaborasi di bagian akhir tulisan ini, artikel Jajang memuat sumber-sumber babon bagi peminat sejarah intelektual Islam Indonesia.

Selain bukunya tentang peran Hasan Mustafa sebagai informan Sunda Masa kolonial, Jajang juga memakai karya-karya Indonesianis beken seperti Snouck Hurgronje (1857-1936), C. Brockelmann (1868-1956), Nico Kaptein (Leiden), Michael Laffan (Princeton), dan Julian Millie (Monash).

Dalam analisanya, Jajang juga menganalisa secara detil kitab-kitab historiografi Ulama’ Nusantara baik yang berbahasa Arab seperti karya ‘Umar ‘Abd al-Jabbar dan ‘Abdullah Mirdad, maupun yang berbahasa Indonesia seperti tulisan Azyumardi Azra dan Oman Fathurrahman.

Artikel Jajang menginventarisasi karya-karya sarjana Indonesia Modern (umumnya ditulis dalam bentuk disertasi atau Master thesis di luar negeri) mengenai topik ini. Di antaranya adalah:

1. The Pesantren Tradition: A Study of the Role of the Kyai in the Maintenance of the Traditional Ideology of Islam in Java,” karya Zamakhsyari Dhofier di the Australian National University (1980)

2. “Sufism in Indonesia: An Analysis of Nawawī al-Bantenī’s Salālim al-Fualā’,”  karya Sri Mulyati di McGill, Montreal (1992) 

3. “Shaykh Nawawī of Banten: texts, Authority, and the Gloss Tradition,” karya Alex Soesilo Wijoyo di Columbia (1997)

4. “The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachings (1850–1950),” Karya, Abdurrahman di Universitas California (1997)

5. “The Life and Mystical Thought of Haji Hasan Mustafa (1852-1930),” karya Jajang Jahroni di Leiden (1999)

6. “Indonesian ‘ulamā’ in the Haramayn and the Transmission of Reformist Islam in Indonesia (1800-1900)”, karya Basri di Universitas Arkansas (2008)

Keenam karya ini menunjukkan “gairah” para akademisi Indonesia untuk memperkenalkan khazanah intelektual Islam di Indonesia dalam lingkup global, sebuah ambisi ilmiah yang ingin digaungkan kembali oleh sarjana modern seperti Jajang.

Kekayaan literatur ini di satu sisi menasbihkan Jajang sebagai salah satu pakar historiografi Islam Nusantara. Di sisi lain, Jajang tanpa ia sadari telah membuat standar, bahwa siapapun yang hendak melakukan kajian serupa, hendaknya membaca terlebih dahulu buku-buku babon di atas.

Artikel Jajang pada intinya menggaris bawahi hubungan guru-murid yang tidak biasa antara Nawawi Banten (1813-1897) dan Hasan Mustapa Garut (1852-1930). Nawawi menulis al-‘Iqd al-Thamin untuk merespon al-Fath al-Mubin karangan muridnya, sementara Hasan Mustofa menulis al-Lum’a al-Nuraniyah untuk men-sharahi kitab gurunya, al-Shadrah al-Jummaniyyah. Keterkaitan antara karya sang guru dan murid diulas dengan baik oleh Jajang.

Fakta bahwa keempat kitab ini pernah dicetak di Mesir menunjukkan signifikansi ulama’ Nusantara dalam tradisi keilmuan global saat itu. Tidak hanya itu, kitab-kitab itu juga secara aktif dikaji secara akademik di masanya.

Bagian pertama artikel Jajang menyoroti sosok Hasan Mustapa yang oleh sebagian sejarawan modern tidak dimasukkan dalam daftar murid “kesayangan” Nawawi. Jajang berpendapat, terdapat kekeliruan dalam cara para sarjana ini membaca sejarah perjalanan Hasan Mustapa di tanah suci. Jajang juga mengkritik ketidak-jujuran akademik (dishonesty) seorang Hurgrounje yang tidak menyebutkan buku Raden Aboe Bakar Djajadiningrat (1854-1915), Tarajim ‘Ulama’ al-Jawah sebagai sumber utama magnum opus-nya, Mekka.

Dengan menulis kitab syarh untuk karya muridnya, Nawawi, menurut jajang, menunjukkan kekagumannya secara intelektual terhadap muridnya. Mustapa yang kala ia menulis al-Fath al-Mubin masih berusia belia (sekitar 31 tahun) mempesona Nawawi dengan pengetahuan Bahasa Arabnya yang fasih dan pengetahuan ilmu agama yang mumpuni. Sang guru-lah yang meng-encourage Mustapa untuk menulis karya pertamanya. Sang guru pulalah yang kemudian men-Syarah-i karya tersebut.

Sebagai tambahan, Jajang juga menganalisa posisi al-Fath al-Mubin karya Mustapa dalam belantika kitab bergenre Sittina Mas’alah (enam puluh masalah).

Merasa belum puas, Nawawi juga meminta Mustapa untuk balik men-sharah-i karyanya, al-Shadhrah al-Jummaniyyah. Sang murid mengamini permintaan gurunya dengan mengarang kitab berjudul al-Lum’ah al-Qur’aniyyah. Dua kitab terakhir ini adalah kitab gramatika bahasa Arab.

Nuansa “ke-nusantara-an” dalam karya berbahasa Arab ulama Jawi adalah hal lain yang ingin dipotret oleh Jajang. Eksodus besar-besaran murid-murid Jawi ke Timur Tengah pada abad ke-19 menjadi salah satu hal yang menggairahkan Nawawi dan Mustopa untuk menyusun kitab pegangan bagi mereka.

Jajang melacak nuansa-nuansa lokal Nusantara ini dalam kitab kedua tokoh dan menemukan dua hal unik: (1) dalam al-‘Iqd al-Thamin, Nawawi membahas hukum bedug dan kentongan, (2) dalam al-Shadhrah al-Jummaniyyah, Nawawi menyisipkan dalam elaborasinya tentang sebuah kaidah nahw, bagaimana seorang non-Muslim sebaiknya diperlakukan. Menurut Jajang, lewat permisalan ini, Nawawi tengah menunjukkan ketidak-suka-annya terhadap imperialisme dan pemerintahan kolonial di Indonesia. Sikap yang berbeda diambil oleh Mustapa, yang bekerja untuk Pemerintahan kolonial sekembalinya dari Tanah Suci.

Di bagian akhir tulisannya, Jajang berargumen bahwa tradisi saling mensharah-i kitab seseorang tidak boleh dianggap remeh. Dalam genre kitab apapun (hadith, tafsir, fiqh), sebuah kitab sharh harus mendapatkan apresiasi akademik yang ia layak terima.

Di dunia akademik modern, tradisi saling men-sharah-i ini mewujud dalam proses saling me-review.

Sebagai “murid intelektual”  Jajang yang belum pernah bertemu langsung, tulisan ini adalah rangkuman (kalau belum bisa disebut review) dari artikelnya. Saya berharap suatu saat nanti, Jajang berkesempatan membaca dan balik me-review karya-karya saya. Seperti Nawawi yang dengan senang hati men-sharah-i Karya Mustapa.

 

How to cite this Article: Muammar Zayn Qadafy, “Romantisme Akademik Guru-Murid (Nawawi Banten dan Hasan Mustapa Garut)”, studitafsir.com (blog), Desember 14, 2020 (+ URL dan tanggal akses)

Detil Artikel yang diringkas: Jajang A. Rohmana, “Authorship of the Jawi Ulama’ In Egypt: A Contribution of Nawawi Banten and Haji Hasan Mustapa to Sharh Tradition”.

Artikel bisa didownload di sini. Untuk berdiskusi, Silahkan tinggalkan komentar.

Share It :
Default image
Studi Tafsir
Articles: 74

Leave a Reply

العربية AR English EN Bahasa Indonesia ID