Living Qur‘an Sebagai Ilmu: Buah Pikir Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah

Oleh: Nur Fadliyati

Meskipun tergolong baru, popularitas kajian Living Qur’an di kalangan para akademisi Indonesia tidak terbantahkan. Ini tampak dari munculnya beragam karya yang mengupas metodologi hingga contoh-contoh riil fenomena LQ di masyarakat. Misalnya Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis karya M. Mansyur, dkk, Ilmu Living Qur’an-Hadis: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi karya Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah, dan Living Qur’an: Teks, Praktik, dan Idealitas dalam Performansi Al-Qur’an. Belum lagi tugas akhir baik itu skripsi, tesis, maupun disertasi, dan artikel-artikel jurnal yang semakin membuat diskusi tentang LQ ini ramai dan hangat.

Namun, interview Studi Tafsir baru-baru ini dengan Ahmad Rafiq, pakar LQ UIN Jogja mengungkap bahwa sang dosen meragukan keberadaan karya yang menyediakan fondasi epistemologis dan filosofis untuk LQ.

Buku Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah seperti menjawab tantangan Rafiq ini. Hasbillah meyakini bahwa secara ontologis, ilmu LQ bisa dicari akarnya hingga ke masa Rasul. Ia menjelaskan bagaimana Al-Sunnah al-Hayyah ini terus berevolusi di masa Nabi, sahabat, tabi’in, tabi’ al-Tabi’in, masa pasca mazhab, hingga era kontemporer. Tak tanggung-tanggung, Hasbillah menawarkan LQ sebagai sebuah ilmu baru. Karenanya, ia memerinci bukunya dalam tiga tema besar atas LQ: Kajian ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Kata Living, menurutnya memiliki dua maksud: sesuatu yang hidup (al-ḥayy) atau usaha untuk menghidupkan (al-Ihya’). Dalam bahasa Inggris, Hasbillah mencontohkan frasa “The living Alqur’an dan “Living the Qur’an”. LQ dalam istilah pertama, lebih menekankan pada fenomenanya, sedang pada istilah kedua, ia lebih cenderung pada strategi atau teknik pengamalan Alqur’an. Dalam praktiknya, tegas Hasbillah, kedua istilah ini tidak bisa dipisahkan.

Menurut Hasbillah, Ilmu LQ membahas Al-Qur’an yang hidup baik secara material-natural, praktik–personal, maupun non–kognitif. LQ adalah ilmu yang mengkaji tentang gejala-gejala Al-Qur’an di tengah kehidupan umat manusia. Ilmu ini tidak berpretensi untuk menjustifikasi kebenaran suatu praktik atau artikulasi dari suatu ayat al-Qur‘an. Ia adalah upaya untuk memperoleh pengetahuan yang kokoh dan meyakinkan dari suatu budaya, tradisi, ritual, pemikiran atau perilaku hidup di masyarakat yang diinspirasi dari sebuah ayat Alqur’an“.

Dari segi objeknya, Hasbillah membagi kajian LQ menjadi dua: obyek material dan formal. Obyek material yang dimaksud adalah perwujudan Al-Qur’an  dalam bentuk non teks. Bisa berupa gambar, multimedia, atau karya budaya, maupun berbentuk pemikiran yang kemudian berwujud lelaku dan perilaku manusia.

Sedangkan objek formalnya adalah sudut pandang menyeluruh tentang perwujudan ayat Al-Qur’an dalam bentuknya yang non teks tersebut. Jadi objek formal ilmu Living Qur’an adalah berupa sosiologi, seni, budaya, sains teknologi, psikologi, dan sebagainya.

Untuk membuktikan bahwa Living Qur’an laik dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, Hasbillah menjelaskan epistemologinya. Pada bagian ini, setidaknya ada beberapa hal penting yang dibahas olehnya. Diantaranya ia memosisikan ilmu LQ dalam rumpun Ulumul Qur’an, dan menjelaskan karakter, paradigma, serta sifat kajian LQ, juga model-model LQ.

Di bagian terakhir bukunya, Hasbillah mengajukan sebuah pertanyaan “untuk apa ilmu Living Qur’an itu ada?, Pentingkah ilmu living Qur’an itu dibangun?”. Menjawab pertanyaan itu, dengan percaya diri, Hasbillah mengidentifikasi kegunaan LQ sebagai media untuk menghidupkan al-Qur’an sebagaimana yang sudah diulas di awal.

Buku yang ditulis oleh Hasbillah ini cukup rinci membahas konstruksi ilmu LQ. Di luar kekurangannya karena terlalu terpaku pada definisi-definisi teknis dalam kajian filsafat ilmu, ia layak dijadikan rujukan dalam penelitian LQ

How to cite this Article: Nur Fadliyati, “Living Qur‘an Sebagai Ilmu: Buah Pikir Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah, studitafsir.com (blog), Maret 31, 2022 (+ URL dan tanggal akses).

Share It :
Default image
Studi Tafsir
Articles: 74

Leave a Reply

العربية AR English EN Bahasa Indonesia ID