Benarkah Sosok Zayd Ibn Haritsah Fiktif? Kontroversi Karya Powers

Beberapa waktu belakangan, sedang ramai diperbincangkan buku kolega kami di Freiburg, Majid Daneshgar, tentang pengalamannya menjadi murid sekaligus dosen dalam kajian ke-Islam-an di tiga Negara yang berbeda iklim relijiusitas dan atmosfer studinya: Iran, Malaysia dan New Zealand.

Kritik Daneshgar tentang kajian ke-Islam-an di dunia Islam yang masih “apologetik”, alih-alih “akademik” direspon beragam oleh akademia Muslim. Sebagian mengamini, sebagian lagi menganggapnya “lebay” dan “tidak merefleksikan situasi yang sebenarnya”.

Di antara yang disinggung Daneshgar sebagai bukti sentimen akademia Muslim terhadap kesarjanaan Barat, adalah tidak dikajinya buku-buku kritis tentang sejarah awal Islam. Salah satunya adalah buku David S. Powers (Cornell), berjudul “Muhammad is Not the Father of Any of Your Men: The Making of The Last Prophet” (2009).

Buku Powers ini beserta “review-review” atasnya adalah obyek kajian saya dalam artikel yang terbit di Jurnal Nun pada awal 2018 lalu.

Inspirasi menulis artikel ini datang di awal fase studi doktoral yang saya tempuh. Saat itu, saya sedang giat-giatnya membaca beragam buku “kalangan revisionis” untuk mendalami kritik mereka terhadap pendekatan diakronis tradisional terhadap teks al-Qur’an. Saya melihat buku Powers ini cukup aktual untuk didiskusikan, dibandingkan karya revisionis kawakan seperti John Wansbrough ataupun duet Michael Cook dan Patricia Crone.

Lebih-lebih, dari segi metodologi, karya Powers ini sangat kompleks. Dengan mengaplikasikan beberapa pendekatan sekaligus meliputi kajian literer terhadap sumber-sumber sejarah Islam tradisional, kajian intertekstualitas, dan kajian manuskrip al-Qur’an, Powers sampai pada kesimpulan yang bombastis: bahwa ada aspek dalam sejarah Islam, yang sengaja digubah untuk tujuan tertentu.

Desain riset dari artikel saya ini sederhana: pertama-pertama saya membaca “sendiri” dengan tuntas buku Powers, menandai argumen utamanya serta mencore-coret bukunya seperti yang biasa saya lakukan. Lalu saya membaca “review-review” atas buku tersebut. Saat artikel saya di Jurnal Nun diterbitkan, saya mengidentifikasi tujuh review yang masing-masing ditulis oleh Reuven Firestone (Sourthern Calorina), Leor Halevi (Vanderbilt), G.R. Hawting (SOAS London), Wilfred Madelung (Institute of Ismaili Studies), Chase F. Robinson (Smithsonian Institution), Walid Saleh (Toronto, Freiburg), dan Daniel Martin Varisco (Doha).

Saya menempatkan buku David S. Powers sebagai salah satu masterpiece dari seorang akademisi yang ingin merevisi sejarah Islam dari versi yang biasa dipahami umat Islam. Buku Powers juga menjadi salah satu karya revisionis yang mendapatkan paling banyak atensi berupa pujian sekaligus kritik.

Buku setebal 356 halaman ini (termasuk indeks dan daftar pustaka), terbagi ke dalam 3 bagian. Bagian pertama memaparkan asumsi-asumsi Powers tentang hubungan antara Yahudi, Kristen dan Islam dan sejarah ringkas perilaku adopsi anak dalam budaya Near East hingga awal Islam. Bagian kedua dan ketiga yang merupakan bagian utama dalam buku ini mendiskusikan: (1) hubungan antara Nabi Muhammad dengan Zaid Ibn Harithah sebagaimana digambarkan dalam sumber-sumber sejarah Muslim tradisional, yang menurut Powers adalah narasi buatan yang tidak bernilai historis; serta (2) kajian terhadap kata kalalah (keadaan seseorang yang tidak memiliki anak) pada manuskrip al-Qur’an yang menurut Powers sengaja disisipkan pada akhir abad pertama Hijriyah
sebagai ganti dari kata yang sebenarnya (kallah yang berarti anak perempuan tiri).

Kedua Analisa ini dilakukan oleh Powers untuk membuktikan bahwa ada usaha sistematis dari umat Islam untuk menyegel pintu kenabian pasca Nabi Muhammad. Secara khusus, Powers meyakininya dilakukan di akhir abad pertama Hijriyah/ akhir abad ke-7 Masehi antara wafatnya Nabi pada 632 M dan meninggalnya Khalifah ‘Abd al-Malik pada 705 M.

Dengan menguraikan dasar argumentasi Power beserta tanggapan para pemerhati sejarah Islam awal, artikel ini ingin menunjukkan bahwa dalam asumsinya yang paling mendasar sekalipun, karya Powers -dan karya revisionis lain- memiliki kelemahan metodologis (paling tidak menurut para reviewers-nya):

(Pertama) asumsi dasar Powers tentang “genealogi kenabian” dan “doktrin tertutupnya pintu kenabian dalam Islam” muncul dari keyakinannya tentang adanya pola khas yang sama di antara agama-agama samawi. Usahanya untuk menemukan pola khas ini menjadikan Power apatis terhadap reliabilitas sumber Islam tradisional dan secara membabi buta menganggap semuanya fiksi dan fabula;

(Kedua) Percobaan intertekstualisasi yang dilakukan Powers terlalu absurd dan tidak apple to apple karena menggunakan dokumen sejarah di millennium kedua sebelum masehi untuk membaca sejarah di abad ke-7 Masehi;

(Ketiga) rekonstruksi kodikologis Powers terhadap kata kallah vis a vis kalalah gagal menjelaskan logika kebahasaan di balik amnesia leksikografik massal terhadap kata pertama dan muncul dengan tiba-tibanya kata kedua. Powers juga mengenyampingkan temuan lain bahwa kata kalalah sudah dipakai sejak zaman Pra-Islam dan bahwa perbaikan manuskrip al-Qur’an yang ia temukan semata-mata hanyalah sejenis haplografi saja.

Tentu saja, analisa dan kesimpulan dalam artikel saya terikat dengan metodologi dan sumber yang saya pakai. Bagaimanapun saya berusaha senetral mungkin untuk memaparkan pro dan kontra di balik karya Powers, pembaca bisa menerka arah ideologi yang saya dukung, paling tidak secara eksplisit.

Pada titik inilah saya kira, buku Powers sangat perlu dikaji secara serius di lingkungan PTAIN, utamanya di jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Ini lebih dari sekedar agar tidak ada lagi tuduhan tentang nuansa apologetik dalam studi Islam di dunia Muslim. Ini tentang menumbuhkan gairah dalam melihat sejarah Islam awal secara lebih teliti, komprehensif dan kritis.

How to cite this Blog Article: Muammar Zayn Qadafy, “Benarkah Sosok Zayd Ibn Haritsah Fiktif? Kontroversi Karya Powers”, studitafsir.com (blog), Desember 23, 2020 (+ URL dan tanggal akses)

Artikel di Jurnal Nun berjudul “Kontroversi Islam Revisionis, David S. Powers, Zayd Ibn Haritsah dan Tertutunya Pintu Kenabian bisa didownload di sini. Untuk berdiskusi, Silahkan tinggalkan komentar.

 

Share It :
Default image
Studi Tafsir
Articles: 74

Leave a Reply

العربية AR English EN Bahasa Indonesia ID