Joseph Lumbard dan Dekolonisasi Studi Qur’an

Oleh: Annas Rolli Muchlisin

Beberapa waktu lalu saya mengulas buku Majid Daneshgar yang menilai bahwa studi Qur’an di akademi Muslim lebih bersifat ‘apologetis’ ketimbang akademik. Agar berimbang, saya akan membahas kritik Joseph E.B. Lumbard (Doha) terhadap studi Qur’an yang berkembang dalam kesarjanaan Barat dalam sebuah artikel yang ia presentasikan pada sebuah konferensi di SOAS, University of London, pada 2016 silam.

Nama Lumbard sendiri pertama kali saya dengar ketika duduk di semester akhir strata satu di UIN Sunan Kalijaga. Saat itu, Seyyed Hossein Nasr (selanjutnya disebut S.H. Nasr) dan timnya baru saja menerbitkan karya tafsir berjudul The Study Quran dan Lumbard adalah salah satu anggota tim tersebut. Jika ditelisik, S.H. Nasr adalah professor di George Washington University yang kerap mengkritisi modernitas Barat. Tentu persahabatan dengan S.H. Nasr turut andil dalam mewarnai sikap kritis Lumbard terhadap keilmuan Barat.

Lumbard memulai artikelnya dengan mengisahkan pada tahun 2012, Journal of Qur’anic Studies menyuguhkan terbitan khusus tentang bagaimana kesarjanaan Qur’an di Barat diresepsi di dunia Muslim. Andrew Rippin, dalam tulisannya di jurnal tersebut, menuliskan harapannya akan adanya kerja sama dan tukar pikiran antar para sarjana dari berbagai penjuru dunia dalam studi Qur’an di masa mendatang. Akan tetapi, lanjut Rippin, ada banyak sekali rintangan untuk mewujudkannya, salah satunya adalah ketidakpercayaan sarjana Muslim terhadap kesarjanaan Barat. Majid Daneshgar sudah menyuguhkan berbagai contoh ketidakpercayaan ini dalam bukunya.

Itu adalah rintangan di satu sisi. Di sisi lain, menurut Lumbard, ada juga rintangan yang muncul dari internal kesarjanaan Barat sendiri, yaitu apa yang ia sebut dengan “epistemic privileging of Euro-American approaches,” yakni sebuah sistem pengetahuan (epistemology) yang lebih mengistimewakan dan menganggap pendekatan-pendekatan yang berasal dari Eropa dan Amerika lebih ‘civilized’ daripada pendekatan lain.

Dalam bahasa sederhananya, yang dikritik Lumbard adalah kecenderunag Eurosentrisme yang menilai Barat sebagai center dan satu-satunya standar kemajuan pengetahuan. Terkait Eurosentrisme ini, sudah banyak sarjana, baik dari kalangan Barat maupun non-Barat, yang telah menyadarinya. Di kawasan Asia Tenggara, kita bisa sebut Syed Farid Alatas dari National University of Singapore (NUS) yang aktif mendorong dikembangkannya teori-teori sosial yang berpijak dan rooted dari pengalaman Asia sendiri, bukan dari pengalaman Barat.

Kembali ke persoalan utama. Apa dampak dari Eurosentrisme ini terhadap studi Qur’an? Lumbard melanjutkan bahwa studi Qur’an dalam akademi Barat karenanya dibangun di atas fondasi yang mengabaikan metodologi dan observasi yang berkembang dalam tradisi klasik ‘ulum al-Qur’an dan tafsir dalam Islam. Literatur-literatur klasik Islam, seperti tafsir dan sirah, seringkali dipandang sebagai ‘pious readings’, ‘uncritical’, bahkan ‘non-cognitive’ dan karenanya literatur-literatur klasik yang sangat banyak jumlahnya ini tidak dianggap memberikan rekaman sejarah melainkan ‘the existential records of the thought and faith of later generations.

Hal seperti ini nampak, misalnya, dalam pernyataan Gabriel Said Reynolds (Notre Dame) yang menegaskan bahwa sirah berawal dari penafsiran (seseorang/kelompok) lalu menjadi sejarah. Karena dinilai tidak menyuguhkan rekaman historis yang faktual maka literatur-literatur klasik Islam ini mesti diabaikan. Reynolds kemudian menawarkan bahwa Qur’an harusnya didekati dan didialogkan bukan dengan apa yang datang setelahnya (tradisi tafsir) melainkan dengan apa yang datang sebelumnya (literatur Biblikal).

Pengabaian terhadap sumber-sumber klasik Islam ini, lanjut Lumbard, sangat nampak dalam Encyclopaedia of the Qur’an di mana banyak artikel di dalamnya yang tidak merujuk kepada sumber-sumber kunci dan primer dalam khazanah intelektual Islam yang ditulis dalam bahasa Arab, tetapi langsung merujuk kepada karya-karya yang berasal dari sarjana Barat (skipping directly to scholars of Euro-American origin). Mungkin dalam konteks akademi Indonesia, Taufik Adnan Amal dengan bukunya Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an adalah contoh yang baik dari kecenderungan seperti ini.

Saya jadi teringat bahwa Walid Saleh, professor ahli studi tafsir dari University of Toronto, juga pernah mengkritik sebuah artikel dalam Encyclopaedia of Islam yang ditulis oleh Rudolph Sellheim (1928-2013) tentang al-Wahidi (w. 468/1075). Saleh mengatakan jika seandainya Sellheim mau merujuk kepada buku-buku biografi abad pertengahan yang ditulis sejarawan Muslim, tentu ia bisa menghindari kesalahannya dalam menulis tentang al-Wahidi.

Begitulah kritik yang disampaikan oleh Lumbard terhadap studi Qur’an di akademi Barat. Eurosentrisme berakibat pada pandangan bahwa metodologi dalam kesarjanaan kelompok di luar Barat cenderung tidak seilmiah yang diinginkan Barat. Konsekuensinya, banyak literatur dari kelompok non-Barat yang termarjinalkan. Pengabaian terhadap teks-teks primer ini pada gilirannya menyebabkan reduksi dan kesalahan dalam menampilkan realita yang sedang dikaji.

Tulisan ini tidak berpretensi menggenaralisasi bahwa semua sarjana Barat bersikap seperti yang dipaparkan di atas. Lumbard sendiri adalah seorang sarjana yang ditempa dalam akademi Barat yang mampu melakukan kerja-kerja kritis. Dalam papernya, Lumbard juga menyebut beberapa sarjana, seperti Angelika Neuwirth, yang mengkritisi kecenderungan sebagian sarjana Barat di atas. Itu artinya, kesarjanaan Barat tidaklah tunggal dan satu suara. Melemparkan semuanya ke dalam satu keranjang penilaian bahwa kajian mereka semua bersifat Eurosentris dan karenanya harus ditinggalkan bukanlah sikap seorang intelektual.

Terakhir, Lumbard mengusulkan apa yang ia sebut dengan ‘a transmodern field of Qur’anic studies’ di mana para sarjana dari berbagai macam latar belakang mampu berdialog terlepas dari perbedaan metodologi dan epistemologi, tanpa menganggap salah satunya lebih superior daripada yang lain. Yang penting dilakukan saat ini, menurut Lumbard, adalah mengembangkan counter-hegemonic approaches yang memungkinkan terjadinya kesetaraan di antara sistem dan jenis pengetahuan, equity between different ways of knowing and different kinds of knowledge.

How to cite this Blog Article: Annas Rolli Muchlisin, “Joseph Lumbard dan Dekolonisasi Studi Qur’an”, studitafsir.com (blog), February 12, 2021 (+ URL dan tanggal akses)

Artikel yang dibahas: Joseph Lumbard, Decolonizing Qur’anic Studies, bisa didownload di sini.

Share It :
Default image
Studi Tafsir
Articles: 74

Leave a Reply

العربية AR English EN Bahasa Indonesia ID