Kolom #25

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy

 

Terhenyak di Ankara

Kesan baik yang saya dapatkan dari Turki tidak hanya soal kekayaan sejarah dan kulinernya, melainkan juga soal kajian akademik dalam bidang studi Qur’an dan Tafsir yang saya tekuni.  Dua tahun lalu, pasca keikutsertaan saya dalam sebuah konferensi di Berlin, saya bahkan membesar-besarkan Turki sebagai masa depan studi Islam, sebuah klaim yang masih saya yakini benar hingga saya menyelesaikan tulisan ini. Dan setelah cukup lama tidak menulis di studitafsir.com, akhirnya di tanah kelahiran Kâtip Çelebi (1609-1657), seorang sejarawan, dan penulis bibliografi prolifik kekaisaran Ottoman, saya menulis lagi.

Kemarin saya mengunjungi Mehmed Akif Koc, di Divinity School, Universitas Ankara, seorang begawan tafsir (baca ulasannya di sini), pecinta Ṭabarī (point ini pernah disampaikan murid Koc, Mughzi Abdillah dalam ulasan berikut) dan penentang keras penalaran historis-spekulatif para orientalis. Selama hampir 3 jam, kami berbicara ngalor-ngidul tentang banyak topik, mulai dari sejarah tafsir sebelum abad ke-5 H, topik yang menjadi keahlian kami berdua, tentang kecenderungan tafsir modern di dunia Muslim, tentang konsep Living Qur’an dan tafsir, juga tentang kajian bahasa semitis. Bahasan terakhir ini yang membuat saya merenungkan beberapa persoalan, salah satunya tentang apa yang saya sebut sebagai Kajian Linguistik Arab yang mendang-mending. 

Dosen yang Kelihatan bisa tapi sebenarnya tidak

Tentu ulasan saya akan sangat subyektif, sesuai dengan apa yang saya alami tiga tahun belakangan dalam kelas-kelas yang saya ajar di jurusan IAT, UIN Sunan Kalijaga. Sudah hampir enam semester berturut-turut saya mengampu mata kuliah orientalisme dalam studi al-Qur’an dan Tafsir (kadang disebut “studi Qur’an dan Tafsir di Timur dan Barat”). Salah satu topik yang selalu seru saya diskusikan bersama para mahasiswa adalah tentang asal-usul al-Qur’an (origin), yang sebahagian besarnya bersinggungan dengan keterkaitan antara bahasa Arab al-Quran dengan Bahasa-bahasa Arab kuno dan bahasa-bahasa semitik lain. Karya-karya yang kami ulas merentang dari para pemain lama (Abraham Geiger, Arthur Jeffery, Christoph Luxemberg, William Graham, Stefan Wild) hingga para pemain baru seperti Emran El-Badawi.

Semoga ini bukan sesuatu yang buruk untuk diakui. Tetapi saya merasa, saya kesulitan “ikut campur” (apalagi memverifikasi dan mengkritik) pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh tersebut. Betapapun para mahasiswa mungkin melihat saya “mumpuni” dalam menjelaskan silat argumen yang kami temukan di buku-buku tersebut dan membuat banyak hal kompleks menjadi sesuatu yang mudah dipahami dan dicerna, sejatinya saya hanya membersamai mereka dalam membaca secara langsung dan teliti (close reading) dan memperkaya penalaran lewat simulasi, jika hipotesa-hipotesa linguistik tertentu diafirmasi dan diaplikasikan pada ayat-ayat lain. thats it…!

Saya ingin mengatakan, saya tidak cukup percaya diri berbicara tentang kaitan antara al-Qur’an dan bahasa-bahasa semitik lain, sesederhana karena saya tidak menguasai salah satupun di antaranya. Pengakuan ini bisa jadi akan mengurangi “kegagahan” saya di mata para mahasiswa (baik yang sudah maupun yang masih akan saya ajar), tapi begitulah cerita sebenarnya. Jangankan memahami Aramaik dan Suryani, dua bahasa yang cukup populer dalam kajian komparatif atas teks al-Qur’an dan bahasa semitik, bahasa Ibrani saja saya tidak tahu satu penggal katapun. Semakin rumit kalau kita menambahkan Ge‘ez (Ethiopia Klasik), Akkadian, Sabaik (Arab Selatan), ataupun Nabatean (Arab Barat Laut).

Ada titik di mana saya merasa bersalah telah menyetujui dan mengajarkan asumsi-asumsi dasar mengenai pembacaan al-Qur’an melalui pendekatan Late Antique, sebuah tema yang sudah mulai ditekuni beberapa mahasiswa untuk keperluan tugas akhir mereka. Idealnya, riset berbasis Late Antiquity musti bersinggungan dengan teks-teks dari abad ke-3 hingga 8 M, sebuah periode yang ditandai dengan krisis dan transformasi kekaisaran Romawi, lalu berkembangnya agama Kristen sebagai agama resmi Romawi, diikuti dengan transformasi Yudaisme rabinik, serta semakin pentingnya peran bahasa-bahasa Semitik, hingga munculnya Islam sampai masa dinasti Abbasiyyah.

Karena keterbatasan saya tentang bahasa-bahasa Semitik yang dimaksud di atas, terhadap para mahasiswa yang ingin menekuni riset di topik itu, saya menerapkan strategi “pelarian”: maksimalisasi literatur-literatur sekunder, seperti Key Terms of the Quran-nya Nicolai Sinai atau apa-apa yang bisa dikulik dari website Corpus Coranicum. Dalam kasus riset yang lebih pelik, mahasiswa saya sarankan membaca buku-buku kontemporer tentang sejarah Romawi, sejarah kekristenan, sejarah Arab kuno, dan sejarah-sejarah lain. Saya ulangi sekali lagi. Ini adalah strategi “pelarian” dan emergency exit door. Prinsipnya sederhana: apa-apa yang tidak bisa dilakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya (mā lā yudraku kulluhū lā yutraku kulluhu), lebih baik “begini saja” daripada tidak sama sekali, kan?.

Bahasa Arab Bagi Mahasiswa prodi IAT itu Fardh ʿAin

Sebenarnya ada opsi lain yang saya pikir lebih elegan dari “strategi pelarian lewat sumber sekunder” di atas. Yaitu dengan optimalisasi kajian ke-Bahasa Arab-an, setinggi-tingginya, sekompleks-kompleksnya lewat pembandingan antara bahasa al-Qur’an dan bahasa Syiir-Syiir Jahiliyyah. Meski ada yang menentang otentisitas syiir-syiir Jāhilī yang kita bisa akses saat ini, saya cenderung tidak sejalan dengan pemahaman seperti itu. Lagipula, sebagai sebuah kerja intelektual, mempelajari syiir-syiir ini luar biasa sulit, setidaknya bagi saya yang pengetahuan bahasa Arabnya terbatas pada apa yang saya pelajari semasa 10 tahun mondok di pesantren. Dīwān-Dīwān karya Ibn al-Qays al-Aʿshā (w. 625 SM), Imri’ al- Qays (w. 540 SM),28 dan al-Nābighah al-Dhubyānī (w. 605 SM) adalah beberapa contoh yang sayangnya jarang sekali (atau bahkan tidak pernah) dikaji di prodi-prodi IAT di Indonesia (koreksi jika saya salah).

Padahal, pencarian makna historis (al-maʿnā al-tārīkhī) dari teks al-Qur’an adalah hal wajib dalam pendekatan kontekstualis yang kita gembor-gemborkan, misalnya dalam metode tafsir Ma’nā Cum Maghzā-nya Sahiron Syamsuddin. Berdasar hanya pada Lisān al-ʾArab karya Ibn Mandhur untuk merekonstruksi makna historis itu jelas tidak cukup. Close reading terhadap kamus-kamus karya al-Khalīl ibn Aḥmad al-Farāhidī (w. 170 H), al-Asmaʿī (w. 213/828 H), al Azharī (w. 370 H), Ibn Fāris (w. 395/1004), Abū Hilāl al-ʿAskarī, dan al-Zamakhsharī (d. 538 H) juga perlu dilakukan.

Apakah jika sudah dibaca kesemua referensi yang saya sebutkan, original meaning benar-benar bisa ditemukan? tentu tidak!!. Bahkan seorang peneliti seniorpun tidak akan bisa memastikan risetnya berakhir baik (happy ending) sesuai yang dia harapkan. Tetapi paling tidak, begitulah langkah-langkah riset yang seharusnya. Sampai di sini, semoga saya telah memperjelas poin yang saya ingin garis-bawahi, bahwa penguasaan Bahasa Arab bagi mahasiswa IAT itu Fardhu ‘Ain, apapun orientasi risetnya. Itulah alasan mengapa setahun lalu, saya membesar-besarkan pentingnya tafsīr adabī atas al-Quran dengan mencoba memutus keterlalu bergantungan pada tafsir tematis kontekstual dan menitik fokuskan pada tafsir al-Qur’an berbasis surah.

Jika hal di atas tidak cukup kompleks, saya ingin menambah satu lagi pengakuan yang “menyakitkan”, yaitu bahwa membaca artikel-artikel orang seperti Ahmad al-Jallād mengenai ortografi teks Arab al-Qur’an itu susahnya “minta ampun”. Sebab utamanya adalah karena pemakaian istilah-istilah teknis ke Bahasa-Arab-an, yang lalu dijelaskan dalam bahasa Inggris. Entah kenapa, meskipun bahasan dan terma umum ke-bahasa Arab-an yang dia pakai mungkin telah saya pelajari sebelumnya dalam ilmu-ilmu Bahasa Arab tradisional, saya merasa tiba-tiba saja ilmu-ilmu itu tidak terlalu membantu memahami apa yang al-Jallād coba jelaskan. Perhatikan contoh abstrak artikelnya berikut:

Was it sūrat al-baqárah? Evidence for Antepenultimate Stress in the Quranic Consonantal Text and its Relevance for صلوه Type Nouns

Summary: This article revisits the problem of the orthography of III­w nouns belonging to the CaCaCat pattern in the Qur’anic Consonantal Text. The third radical of these nouns is spelled with a waw in the unbound state, but with an alif when followed by a pronominal clitic. Scholars have offered a variety of solutions to account for this anomaly, ranging from the influence of Aramaic to Arabic­ internal sound changes, but none has so far been entirely satisfactory. In this paper, we integrate the understanding of this spelling into the broader is­ sue of the collapse of triphthongs in Arabic, concluding that the collapse of the triphthong awa, and the quality of the ensuing monophthong, was dependent upon the position of the accent.

Walhasil, jika sumber referensi diskusi di kelas adalah tulisan-tulisan al-Jallād,  close reading yang saya lakukan bersama mahasiswa akan memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Kesulitan saya “menikmati” karya al-Jallād sering membuat saya frustasi dan menyadarkan saya tentang masih lemahnya pengetahuan ke bahasa Arab-an yang saya kuasai.

Antiklimaks

Sampai di sini, ada tiga kualitas yang saya telah sebutkan dan masih menjadi PR bersama: kecakapan berbahasa Arab, kecakapan membaca syiir jāhilī dan kecakapan berbahasa semitik lain.

Khusus yang terakhir, agak mustahil bagi saya mengejar ketertinggalan atas penguasaan bahasa semitis untuk membantu memahami al-Qur’an. Meskipun secara teoretis bisa, belajar bahasa baru membutuhkan ketekunan dan komitmen waktu, dua hal yang dalam posisi saya yang sekarang, sebaiknya saya alokasikan untuk hal-hal lain. Paling banter, saya akan lebih giat lagi membaca ulang perangkat ilmu kebahasa-Araban yang saya miliki, agar jika harus mengaplikasikan teori Ma’na Cum Maghza, Pak Sahiron tidak kecewa dengan pelacakan historical meaning yang ala kadarnya. Juga jika harus membaca artikel-artikel al-Jallād, saya tidak perlu mengerutkan kening terlalu dalam.

Saya mungkin sudah menyerah, tapi kalian jangan…!

How to cite this article: Muammar Zayn Qadafy, “Kajian Linguistik Arab yang Mendang-Mending: Oleh-Oleh dari Ankara”, studitafsir.com (blog), 10 September 2025 (+ URL dan tanggal akses)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *