Lingkaran Setan Kronologi al-Qur’an dan Sīrah Nabawīyah: Tantangan Terbuka Reynolds Untuk Pendukung Tafsir Kronologis

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy

Kalau ada sarjana Studi Qur’an yang getol menyoal dan mengkritik praktik Tafsir Kronologis di masa modern, dia adalah Gabriel Said Reynolds (Notre Dame). Buku-bukunya (seperti The Qur’an and Its Biblical Subtext dan Allah: God in the Qur’an) mengadopsi sebuah pendekatan yang disebutnya sebagai Qur’anist approach. Reynolds menjauhi segala bentuk intervensi pemahaman atas al-Qur’an dari tradisi eksegetikal umat Islam.

Konfrontasi Reynolds dengan kronologi al-Qur’an (baik teori maupun penggunaannya dalam Tafsir) bermula dari sebuah artikel yang ditulisnya pada tahun 2011, berjudul “Le Probleme de La Chronologie du Coran/ Problem Kronologi al-Qur’an”. Artikel itu menyasar dua topik penting: pelacakan metodologis atas model tafsir kronologis yang belakangan “booming” dan pengujian sejauh mana kronologi al-Qur’an ini bisa digunakan sebagai perangkat tafsir yang valid.

Reynolds memulai dengan mengulas sejarah lahirnya karya fenomenal Nöldeke, Geschichte des Qoran. Buku ini dipublikasikan pertama kali di Göttingen pada 1856. Saat itu usia Nöldeke baru 20 tahun. Empat tahun berselang, ia mengikutkan karyanya ini pada sebuah kompetisi di Paris. Dua juri kompetisi itu, Armand-Pierre Caussin de Perceval (w. 1871) dan Ernest Renan (w. 1892) menobatkan Nöldeke muda, bersama dengan Michele Amari (w. 1889) dan Aloys Sprenger (1893) sebagai juara bersama. Mengapa kisah ini penting bagi Reynolds? karena ia heran bagaimana karya seorang sarjana muda bisa sedemikian berpengaruhnya di era belakangan.

Nöldeke mengembangkan ide pendahulunya, Gustav Weil (w. 1889) yang juga membaca al-Qur’an dengan framework biografi Nabi Muhammad SAW (dalam bukunya Historische-Kritische Einleitung in der Koran). Tidak mengherankan, kata Reynolds, karena sebelum masa Weil, penerjemahan karya-karya bergenre sīrah sedang gencar-gencarnya. Biografi Muhammad diterjemahkan ke dalam bahasa latin tahun 1698 oleh Ludovico Marracci (w. 1700), ke bahasa Inggris tahun 1734 oleh George Sale (w. 1736), dan ke bahasa Perancis tahun 1783 oleh Claude-Étienne Savary (1788). Bagi Reynolds, ini menjawab mengapa karya Nöldeke sangat positivistik dan afirmatif terhadap sejarah Islam awal versi kesejarahan tradisional.

Dulu, perhatian ulama Muslim pada kronologi al-Qur’an muncul pertama kali ketika mereka berhadapan dengan masalah-masalah fiqh yang timbul dari kontradiksi dalam ayat-ayat al-Qur’an. Dikembangkanlah teori Naskh dengan asumsi ada ayat yang turun belakangan yang menghapus hukum ayat terdahulu. Di antara karya-karya awal tentang naskh ini adalah yang ditulis oleh Qatādah (118/736), al-Zuhrī (124/742), ʿAṭạ̄ʿ al-Ḫurāsānī (135/752) dan al-Qāsim b. Sallām (224/839).

Tetapi kronologi al-Qur’an yang teridentifikasi oleh kitab-kitabb naskh ini terbatas pada kasus-kasus hukum saja. Pada karya tafsir Muqātil b. Sulaimān (150/767) embrio dari apa yang belakangan disebut Asbāb al-Nuzūl diperkenalkanGenre ini terus berkembang hingga al-Wāḥidī (468/1075-6) mengarang kitab khusus tentangnya. Dan pada saat yang sama, muncul juga kitab-kitab yang khusus mendaftar surat Makkiyyah dan Madaniyyah. Di antaranya adalah karya al-Ya’qūbī (292/897) dan Ibn al-Nadīm (385/995). (Lihat juga penelusuran sejarah literatur ini dalam tulisan Munirul Ikhwan)

Sejarah kemunculan genre-genre ini penting untuk Reynolds tampilkan. Meskipun ia tidak secara eksplisit menyebutkan motivasinya, agaknya ia tengah berargumen bahwa tradisi naskh, teorisasi Makki-Madani dan sabab al-nuzūl adalah usaha umat Islam untuk membuat al-Qur’an ‘bercerita’ (a story), dan sama sekali tidak merefleksikan peristiwa sejarah (a history).

Nöldeke, kata Reynolds, menyadari keterbatasan teorisasi Makkī-Madanī di dunia Islam yang sangat bersandar pada kitab-kitab sīrah. Karenanya ia memunculkan dua parameter lain: perkembangan psikologi Muhammad, dan panjang-pendek surat al-Qur’an. Tetapi, dua kriteria baru ini tidak bisa meninggalkan ketergantungan Nöldeke pada narasi tradisional yang dikandung dalam kitab-kitab Sīrah. Hasilnya, kronologi Nöldeke tidak berbeda jauh dengan versi teori tradisional.

Problem utama kronologi al-Qur’an tradisional dan (termasuk juga) versi Nöldeke menurut Reynolds adalah apa yang dalam istilah Régis-Blachère disebut sebagai ‘lingkaran setan’ (vicious circle): ‘al-Qur’an dipakai untuk menciptakan kisah sang Nabi, lalu biografi Nabi itu dipakai lagi untuk menentukan kronologi al-Qur’an”.

Jelas, Reynolds seperti halnya Blachère, sangat terpengaruh oleh Henri Lammens (w. 1937) yang berpendapat bahwa sīrah nabawīyah adalah tafsir atas al-Qur’an. Selain karena sebagai sebuah literatur, genre sīrah muncul belakangan, ia dikembangkan dari kiasan-kiasan al-Qur’an yang butuh penjabaran. Dalam kerangka berpikir ini, keberadaan lingkaran setan menjadi masuk akal. Jika Sīrah Nabawīyah disusun dari sinyalemen-sinyalemen al-Qur’an, bagaimana bisa ia dijadikan dasar untuk menyusun kronologi al-Qur’an?.

Siapapun yang hendak menjawab tantangan Reynolds, ia harus memberi alternatif pemahaman yang memadai tentang posisi genre literatur naskh, sabab al-nuzūl dan sīrah nabawīyah, bukan dari kaca mata teologis, tetapi dari kaca mata sejarah intelektual.

Reynolds lalu mengelaborasi pemikiran para pengusung kronologi al-Qur’an setelah Nöldeke dan Blachère, seperti Hirschfeld (1902), Richard Bell (1926) dan Montgomerry Watt (2006). Mereka, kata Reynolds, punya problem metodologis yang sama. Bahkan pewaris Nöldeke di era modern seperti Angelika Neuwirth (Berlin) belum sepenuhnya lepas dari problem metodologis ini. Neuwirth, seperti kata Alford Welch (Michigan), terlalu tunduk pada kronologi Nöldeke tanpa melakukan analisis kritik yang memadai.

Reynolds geram karena belum ada sarjana yang serius untuk mengungkap masalah utama ini. Ia menyindir buku The Qur’an in Context (kumpulan artikel yang diedit oleh Neuwirth dan Nicolai Sinai) yang masih berpijak pada kronologi Nöldeke.

Sebagai penutup, Reynolds membandingkan studi Qur’an dengan studi kitab Mazmur (psalms), bagian dari Perjanjian Lama yang merupakan kumpulan dari 150 doa dan nyanyian untuk ibadah. Sebanyak 101 dari 150 mazmur ini dimulai dengan judul yang disertai nama pengarangnya, dan terkadang waktu penulisannya. 73 di antaranya mencatat nama Nabi Daud sebagai penulis sementara 13 mazmur yang lain mengidentifikasi kejadian-kejadian tertentu di balik penyusunannya. Misalnya, mazmur ke-tiga menyebutkan kalau Daud menulisnya ketika dia melarikan diri di depan putranya, Absalom.

Studi terkini menunjukkan bahwa judul-judul ini adalah tambahan dari para mufassir Yahudi yang mencoba menghubungkan kitab Mazmur pada kisah hidup Daud. Sama seperti sīrah nabawīyah yang diproduksi untuk menghubungkan al-Qur’an dengan Muhammad.

Karenanya, para sarjana Bible sekarang tidak lagi memakai judul-judul ini untuk mengungkap apa yang terjadi pada masa Daud ketika ia menulis mazmur karena hal ini secara historis bermasalah, tetapi untuk mengungkap bagaimana para mufassir Yahudi memahami kitab mazmur. The Oxford Bible Commentary dengan jelas mengafirmasi ini. Lebih dari itu, kata Reynolds, kesadaran sejarah semacam ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan bagi fondasi teologis pembaca Bible.

Reynolds ingin para sarjana Qur’an move on dari kronologi al-Qur’an dan Tafsir kronologis. Ia yakin masih banyak alternatif metode yang lebih tepat dan lebih tidak dogmatis. Secara retoris Reynolds bertanya, “apakah al-Qur’an meminta dirinya dibaca secara kronologis? Jika tidak, beri kesempatan siapapun yang ingin membaca al-Qur’an dengan apa yang ia yakini benar”.

How to cite this Article: Muammar Zayn Qadafy, “Lingkaran Setan Kronologi al-Qur’an dan Sīrah Nabawīyah: Tantangan Terbuka Reynolds Untuk Pendukung Tafsir Kronologis”, studitafsir.com (blog), September 18, 2021 (+ URL dan tanggal akses)

Detil Artikel yang direview: Gabriel Said Reynolds, Le Probleme de La Chronologie du Coran”. Artikel bisa didownload di sini. Untuk berdiskusi, Silahkan tinggalkan komentar.

Share It :
Default image
Studi Tafsir
Articles: 74

Leave a Reply

العربية AR English EN Bahasa Indonesia ID