Review #41

Oleh: Nailul Wirdah Tafsir al-Tabari (W. 310 H/ 922 M) merupakan kitab tafsir pertama yang terbukukan dalam sejarah keilmuan Islam. Salah satu keistimewaan kitab tafsir ini adalah kemampuannya dalam mengakomodir hampir seluruh riwayat para sahabat dan, juga tabi’in. Bassam Jamal…

Review #40

Oleh: Annas Rolli Muchlisin Sumber-sumber tradisional Muslim menginformasikan bahwa mushaf al-Qur’an yang kita miliki sekarang secara resmi telah dibukukan pada masa khalifah Utsmān bin ‘Affān (w. 656). Namun, beberapa sarjana modern, seperti Mun’im Sirry (Notre Dame) untuk konteks diskursus di…

Review #39

Oleh: Nurfadliyati Layaknya sebuah sumur yang tidak pernah kering, penggalian terhadap segala hal yang terkait dengan Al-Qur`an tidak akan pernah terhenti: kajian terhadapnya bersifat unlimited.  Di era modern yang yang serba digital ini, kajian terhadap Al-Qur`an menjadi satu ruang tersendiri…

Review #38

Oleh: I’syatul Luthfi   “Klasifikasi antara harfiyyah dan ma’nawiyyah bukanlah klasifikasi yang operatif sebagai perangkat analisis sebuah terjemahan” (h. 183)   Pernyataan di atas adalah posisi intelektual Fadhli Lukman (UIN Sunan Kaljaga) dalam memahami teori terjemahan Al-Qur’an. Pernyataan Fadhli terbilang…

FGD #1

LSQH, Reviu

Oleh: Ayub Mukaddimah Genre tabaqat al-mufassirin mungkin saja sudah tua, tapi di Dunia Arab sampai saat ini, ada satu buku sejarah tafsir yang terlalu dominan, yakni at-Tafsir wa al-mufassirun-nya Muḥammad Ḥusayn ad-Dhahabī. Paper Mu’ammar Zayn Qadafy yang baru-baru ini mendapatkan…

Review #37

 Oleh: Husnul Maab Bagaimana seharusnya membaca perempuan di dalam teks-teks keagamaan yang ada? Pertanyaan ini penting dikemukakan karena adanya anggapan jika perempuan belum juga menemukan haknya secara utuh sebagai perempuan di dalam realitas sosial. Ketidakadilan yang didapatkan oleh perempuan ini…

Review #36

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy Judul reviu kali ini memang saya akui, panjang. Baik kalimat induk (sebelum titik dua), maupun kalimat turunannya sama-sama memuat argumen penting yang sulit disederhanakan. Saya melihat bahwa intisari dari artikel Pieter Coppens (Amsterdam), yang berjudul “Tafsir…

Review #35

Oleh: Asep Nahrul Musadad   “Ada” lebih dahulu dari “pengada”. Heidegger menyebut rumah pengada itu dengan bahasa, house of being. Aktivitas “menjelaskan ayat Al-Qur’an” adalah realitas yang telah ada sejak 14 abad silam. Di Abad ke-21 M, sivitas akademika Prodi…

Review #34

Oleh: Alif Jabal Kurdi    Hermeneutika masih menjadi salah satu topik yang memancing kontroversi. Permasalahan sisi origin serta ketepatannya jika diaplikasikan dalam penafsiran al-Qur’an masih menjadi persoalan. Alasan tersebut setidaknya masih memberikan kesan yang cukup membekas dalam ruang-ruang diskusi akademik…

Review #33

Oleh: Husnul Maab   Perlukah pemaknaan terhadap ayat-ayat Al-Qur`an diperbarui? Jawabanya tentu beragam. Perlu, jika satu pemaknaan dianggap sudah tidak kompatibel dengan konteks zaman. Sebaliknya, menjadi tidak perlu jika pemaknaan yang ada sudah cukup untuk menjawab segala problematika yang ada.…

Kolom #9

Oleh: Ahmad Mushawwir   Nama Muqātil bin Sulayman (w. 150 H/767 M) bukanlah nama asing di dalam teradisi keilmuan Islam. Setidaknya menyebut nama Muqātil–sebagaimana ditulis Fawaidur Ramdhani dalam “Kredibilitas Muqātil Bin Sulaymān dalam Periwayatan Isrā’īliyyāt–akan memperkenalkan kita pada julukan-julukan yang…