Review #53

Membela Orientalisme (Percakapan Daneshgar dan Empat Reviewer Karyanya)

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy   Daneshgar tidak sedang main-main ketika melempar klaim bahwa kajian Keislaman di akademi Muslim cenderung sektarian, apologetik, teologis, dogmatik, defensif, deskriptif, anti-kritik, irshādik dan normatif (baca review atas bukunya berjudul Studying the Qur’an in Muslim Academy di…

Review #53

Mendaur Ulang Ibn Taymiyyah

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy   Artikel Younus Mirza (Georgetown University) ini melanjutkan episode pelacakan fragmen tertentu sejarah intelektual Islam melalui peran para editor buku di era modern, sebuah usaha yang belakangan mengkristal lewat karya-karya para orientalis seperti Ahmed el-Shamsy (lihat…

Kolom #20

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy Ada satu hal yang menggangu saya secara emosional selama pelaksanaan konferensi ini, yaitu adanya kesepakatan tidak tertulis dari para akademisi yang hadir, bahwa masa depan studi Islam ada di Turki, wa bi al-khusus, Istanbul. Saya sebut “tidak tertulis”…

Kolom #19

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy   Tiga hari ini (27-29 Juli), saya berkesempatan untuk menghadiri konferensi tentang sejarah intelektual Islam dengan tajuk “bridging the gap: texts, commentaries and new audience” di Humboldt Universität Zu Berlin. Sebagaimana judulnya, fokus utama dari event…

Review #52

Oleh: Sherly Dwi Agustin   Pieter Coppens dalam karyanya yang berjudul Did Modernity End Polyvalence? Some Observations on Tolance for Ambiguity in Sunni Tafsīr menyajikan cara baru dalam kajian sejarah tafsīr. ia berangkat dari konsepsi popular bahwa budaya-budaya Islam secara…

Review #51

Oleh: Taufik Rahman   Al-Qur’an dan Bible dalam lensa kajian tradisional acap dinyatakan sebagai dua corpus yang saling berbenturan. Di antara argumen yang mewarnai perdebatan tersebut adalah adanya anggapan bahwa Al-Quran telah menghapus keberadaan Bible, di samping pendapat lainnya yang…

Review #50

Oleh: Annas Rolli Muchlisin Dalam jilid terakhir buku al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal, Ibn Hazm (w. 1064) menyuguhkan satu bab khusus seputar kenabian perempuan (nubuwwah al-nisā’). Ia merekam bahwa tema tersebut telah memicu kontroversi dan perbincangan luas di…

Review #49

Oleh: Matsna Afwi Nadia   Tulisan ini lahir dari gagasan Ahmad Baidowi tentang ayat-ayat anti kekerasan dalam Al-Qur’an yang dimuat dalam artikelnya dengan judul “Promoting Qur’anic Verses That Reject Violence”. Pembahasan atas tema tersebut berkaitan dengan isu pelemahan identitas Islam…

Kolom #18

Terjemah Interlinear al-Qur’an di Melayu-Indonesia: dari JC Lobherz ke RM Feener (Bag.2) Oleh: Muhammad Dluha Lutfillah   Kontribusi Wilson ini sejak dalam judul telah menyebutkan penekanan pada bahasa- bahasa “Islamicate”.  Agaknya untuk memberi permakluman pada judul tersebut, Wilson mengatakan “Muslim activity…

Kolom #17

Muhammad Dluha Lutfillah, State of the Art Interlenear Translation of the Quran

Oleh: Muhammad Dluha Lutfillah Where it all begins Umberto Eco (1932-2016) pernah dengan cukup marah menyampaikan tuntutannya agar kajian terjemahan memperhatikan hal-hal kecil sekalipun dan memberi detail penjelasan sebanyak mungkin, seperti yang George Steiner (Chicago, 1929-2020) lakukan dalam After Babel:…

Kolom #16

Oleh: Ali Imron   Beberapa waktu lalu, dalam sebuah forum, saya diminta menemui para siswa yang didampingi beberapa guru dari sebuah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Jawa Timur yang berkunjung ke Ushuluddin UIN Yogyakarta. Mereka adalah siswa kelas XII yang…

Kolom #15

Oleh: Mu’ammar Zayn Qadafy Di antara fitur baru dalam Historiografi tafsir yang ditawarkan Walid Saleh (silahkan lihat beberapa penjelasan tentangnya di sini) adalah diletakkannya al-Kashshāf karya al-Zamakhsharī (d. 539/ 1143) sebagai pusat gravitas sejarah tafsir. Secara hiperbolik, sang pemikir mengutarakan bahwa…